Business Center

Sekolah Menengah Kejuruan wadah yang tepat untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan. Sekolah memiliki tempat khusus pusat pendidikan kewirausahaan yang dinamakan Business Center. Keberadaan Business Center melibatkan siswa secara langsung di lapangan, untuk melatih sikap kemandirian, kedisiplinan, komunikatif, tanggung jawab, berani berwirausaha, kreatif, dan semangat menjadi pengusaha yang sukses.

Perilaku dan sikap wirausaha tidak bisa dipisahkan untuk menjadikan lebih sempurna karena kedua-duanya memiliki karakteristik yang berbeda. Sikap itu cara pandang dan pola pikir, sedangkan perilaku adalah tindakan dari kebiasaan atas kebenaran yang ia pegang teguh. Perilaku juga disebut sebagai langkah dan tindakan yang ia lakukan untuk menghadapi dan menyiasati pekerjaan sehari- hari. Meskipun sikap dan perilaku berbeda, keduanya masuk menjadi karakteristik wirausaha.

Perilaku juga dapat disebut sebagai langkah dan tindakan yang ia lakukan untuk menghadapi dan menyiasati pekerjaan sehari-hari Hendro, 2011: 166. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku wirausaha adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa yang mencerminkan karakterisktik dan ciri-ciri seorang wirausaha yaitu percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil risiko dan suka tantangan, kepemimpinan, keorisinilan, berorientasi ke masa depan. Ciri-ciri wirausaha tersebut dijadikan indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana siswa yang mengikuti praktik bisnis di Business Center berperilaku wirausaha.

Teaching Factory (TEFA)

Menjawab Tantangan Industri dengan Teaching Factory

Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi / jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK.

“Teaching factory adalah model pembelajaran yang membawa suasana industri ke sekolah sehingga sekolah bisa menghasilkan produk berkualitas industri,” terang Kasubdit Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Mochamad Widiaynto dikutip dari Kompas.com

Model Pembelajaran Teaching Factory merupakan model pembelajaran bagi Sekolah Vokasi baik itu SMK maupun Perguruan Tinggi Vokasi berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Teaching Factory (TEFA) menjadi konsep pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan dunia industri. TEFA merupakan pengembangan dari unit produksi yakni penerapan sistem industri mitra pada unit produksi/praktek yang sudah ada di Sekolah Vokasi.Teaching factory merupakan sebuah konsep pembelajaran yang berorientasi pada produksi dan bisnis untuk menjawab tantangan perkembangan dunia industri saat ini dan nanti.

Dengan TEFA, siswa dapat belajar dan menguasai keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar kerja industri sesungguhnya. tidak hanya itu, produk-produk yang dibuat para siswa sebagai proses belajar pun bisa dipasarkan ke masyarakat sehingga hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional sekolah.

Tujuan TEFA

  • Mempersiapkan lulusan Sekolah Vokasi menjadi pekerja dan wirausaha
  • Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya
  • Menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing
  • Memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja
  • Memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan Sekolah Vokasi
  • Membantu siswa Vokasi dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual;
  • Memberi kesempatan kepada siswa Vokasi untuk melatih keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karier yang akan dipilih.